10 Tips Jitu untuk Membeli Properti Sewaan Pertama Anda

Tak bisa disangkal bahwa Real estate telah menghasilkan begitu banyak orang kaya di dunia, jadi ada banyak alasan untuk menganggap properti itu sebagai investasi yang masuk akal. Akan tetapi seperti investasi kebanyakan, lebih baik menjadi orang yang berpengalaman sebelum nyemplung dengan ratusan juta uang Anda.

Lengkapi diri Anda dengan informasi di bawah ini sebelum memulai karir baru sebagai konglomerat real estate. Cek selengkapnya para calon konglomerat…

  1. Pastikan itu untuk Anda

Apakah Anda tahu jalan di sekitar toolbox? Bagaimana Anda memperbaiki drywall? Atau unclogging toilet? Tentu, Anda bisa memanggil seseorang untuk melakukannya untuk Anda, tapi itu akan memakan keuntungan Anda.

Pemilik properti yang memiliki satu atau dua rumah sering melakukan perbaikan sendiri untuk menghemat uang. Jika Anda bukan tipe yang berguna dan Anda tidak memiliki banyak uang cadangan, menjadi pemilik mungkin tidak tepat untuk Anda.

Properti pertama Anda akan banyak menghabiskan waktu Anda saat Anda mempelajari seluk beluk menjadi tuan tanah. Anggap saja sebagai pekerjaan paruh waktu lainnya. Apakah kamu punya waktu?

  1. Bayar Hutang Pertama

Investor yang cerdas mungkin membawa hutang sebagai bagian dari portofolio investasinya, namun rata-rata orang harus menghindari hutang. Jika Anda memiliki pinjaman lain, tagihan medis yang tidak dibayar atau memiliki anak yang akan segera kuliah, membeli properti sewaan mungkin bukan tindakan yang tepat saat ini.

  1. Dapatkan Uang Muka

Properti investasi umumnya memerlukan uang muka yang lebih besar daripada properti yang diduduki pemilik, sehingga persyaratan persetujuan yang lebih ketat. 3 persen yang Anda taruh di rumah yang saat ini Anda tinggali tidak akan bekerja untuk properti investasi. Anda memerlukan setidaknya 20 persen, mengingat asuransi hipotek tidak tersedia di properti sewa.

  1. Waspadai Tingkat Bunga yang Lebih Tinggi

Biaya peminjaman uang mungkin murah saat ini, namun tingkat bunga atas properti investasi akan lebih tinggi dari suku bunga hipotek tradisional. Ingat, Anda memerlukan pembayaran hipotek yang cukup rendah sehingga tidak akan memakan keuntungan bulanan Anda terlalu signifikan.

  1. Hitung Margin Anda

Perusahaan Wall Street yang membeli properti, membidik kenaikan harga 5 persen menjadi 7 persen karena mereka harus membayar staf. Individu harus menetapkan tujuan 10 persen. Perkiraan biaya pemeliharaan sebesar 1 persen dari nilai properti setiap tahunnya. Biaya lainnya termasuk asuransi, biaya lain yang mungkin, pajak properti dan biaya bulanan seperti pengendalian hama dan pemeliharaan bangunan.

  1. Jangan Beli Fixer-Upper

Sangat menggoda untuk mencari rumah yang bisa Anda dapatkan dengan harga murah dan membalikkannya menjadi properti sewaan. Tapi jika ini adalah properti pertamamu, itu mungkin ide yang buruk.

Kecuali Anda memiliki seorang kontraktor yang mengerjakan pekerjaan dengan harga murah – atau Anda ahli dalam perbaikan rumah berskala besar – Anda mungkin akan membayar terlalu banyak untuk merenovasi. Sebagai gantinya, carilah rumah yang harganya di bawah pasar dan sebagian besar membutuhkan perbaikan kecil.

  1. Hitung Beban Usaha

Secara keseluruhan, biaya operasional pada properti baru Anda adalah antara 35 persen sampai 80 persen dari pendapatan kotor Anda. Jika Anda mengenakan biaya Rp 20 juta untuk sewa dan biaya masuk Anda mencapai Rp 8 juta per bulan, Anda mencapai 40 persen. Untuk perhitungan yang lebih mudah, gunakan aturan 50 persen. Jika biaya sewa yang Anda bayar adalah Rp 26 juta per bulan, Anda bisa membayar Rp 13 juta untuk total biaya.

  1. Tentukan Nilai Kembali Investasi

Untuk setiap rupiah yang Anda investasikan, apa keuntungan Anda atas uang tersebut? Saham mungkin menawarkan cash on cash 7,5 persen sementara obligasi bisa membayar 4,5 persen. Kembalinya 6 persen di tahun pertama, Anda sebagai pemilik rumah dianggap sehat, terutama mengingat jumlah tersebut harus meningkat seiring berjalannya waktu.

  1. Dapatkan Rumah dengan Biaya Rendah

Semakin mahal rumah, semakin tinggi biaya yang akan Anda keluarkan. Beberapa ahli merekomendasikan memulai dengan rumah seharga Rp 200 juta.

  1. Temukan Lokasi yang Tepat

Carilah pajak properti rendah, distrik sekolah yang layak, lingkungan dengan tingkat kejahatannya rendah, area dengan lapangan kerja yang berkembang dan banyak fasilitas seperti taman, mal, restoran dan bioskop.

Yang Perlu Anda Garis Bawahi

Jaga agar harapan Anda tetap realistis. Seperti investasi apa pun, properti sewaan tidak akan menghasilkan gaji bulanan yang besar untuk sementara waktu dan memilih properti yang salah bisa menjadi kesalahan besar. Pertimbangkan untuk bekerja dengan partner yang berpengalaman pada properti pertama Anda atau menyewakan rumah Anda sendiri untuk menguji kemampuan pemilikan rumah Anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *